Wednesday, February 25, 2015

Klise


Kalau memang ada suatu komitmen yang harus dijaga hingga akhir hayat, tak sepantasnyakah harus ada sesuatu yang dibutuhkan untuk membantu semua itu tetap terjaga?
Laksana sebuah amanah untuk menjaga gelas berlapis ruby, dimana ia tak boleh jatuh dan pecah. Itupun harus mempunyai pelindung, misalkan adanya "private safety", ya seperti dibuatnya tabung khusus bervolume ruang yang dilapisi sensor untuk menyimpan gelas tersebut, dan jika ada yang berani mendekati nya maka sensor tersebut akan mengeluarkan suara sirine. Itu analogi ringannya, namun bagaimana jika itu bukan hanya tentang sebuah gelas saja. Bagaimana jika itu berkenaan dengan kehidupan nyata kita, tentang perasaan misalnya? Menjaga komitmen akan suatu perasaan yang menciptakan suatu hubungan baik nan suci, namun harus diragukan kembali perasaan itu ketika sedikit tergoyah.

"Walau rintangan yang selalu datang aku takkan pernah mundur. Walau tantangan tak pernah berhenti cinta takkan pernah mati." Itu sebagian lirik lagunya Yovie & Nuno yang judulnya Sampai Akhir Waktu. Oke, memang lagu itu tentang CINTA. Tapi, bukan itu intinya. Hmm, bisa jadi bukan itu intinya.

Pertanyaannya, apakah setiap orang di dunia ini mampu mempertahankan komitmen yang ia pegang dan tetap terjaga baik hingga akhir hayatnya. Sebenarnya, aku menulis postingan ini karena terlalu banyak spasi untuk membicarakan hal yang sifatnya ekstensial. Hal yang membutuhkan pendalaman ilmu dan praktik jitu agar bisa menjawabnya, dan mungkin bisa menjawabnya dengan tepat dan yakin di kehidupan berikutnya (bagi yang percaya). 

Di dalam menjalani kehidupan, pasti akan ada titik dimana kita sulit untuk tetap menjaga komitmen semurni niat awal yang masih bersifat idealis. Dimana akan adanya kondisi lingkungan yang dasarnya mengalir di sisi kehidupan dengan adanya kebudayaan dan kebiasaan, mengadukkan semua hal yang berpotensi melemahkan komitmen yang ada. Salah siapa itu semua? Tidak, salah siapa jika komitmen itu sudah mulai luntur walau hanya secuil. Sepenuhkan kita? Atau sepenuhnya lingkungan? Atau keduanya?

Adakah hukum alam akan menyepak dan memberi karma terhadap kelalaian seperti itu. Sulit untuk menyalahkan lingkungan, karena itu general dan 'banyak'. Namun kita; individual dan berdiri sendiri. Jika memang komitmen itu menjada 'payah', one and the only one dunia akan memandang kita adalah penyebabnya (self). 

Jangan melemahkan otakmu untuk memikirkan makna tulisan kali ini.
Jangan buatmu berprasangka negatif.
Ini klise, biasa saja, ada tapi tak tampak. Kecuali kau bisa rasa....

0 komentar:

Post a Comment

Pengikut

Celoteh Mereka

Precious Award

Precious Award
 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez