Monday, August 2, 2010

Bintang Kerlipan Bintang


Ini adalah cerpen tulisan asli Annisa Darmawahyuni (saya) untuk mengikuti Kontes Write Story Cerita Anak-anak Februari 2010. Ini hanya cerita fiktif yang merupakan oretan khayalan nisa entah sampai mana melambung. Maav jika kurang berkenan di hati pembaca :)


Malam ini hujan turun deras. Aku baru saja menyelesaikan ketikkan makalahku. Aku menyenderkan tubuhku di atas kursi belajar sambil mendengarkan lagu D’Massiv – Jangan Menyerah yang sedang diputar di salah satu stasiun radio favoritku. Aku berusaha menenangkan hati dan pikiranku setelah seharian beraktivitas di kampus. Di dalam kamarku yang berukuran 3x4 meter, tiba-tiba aku melihat foto lama yang terpajang di atas meja belajarku. Terlihat aku dan seorang anak kecil yang mengenakan jas putih tersenyum lebar. Aku masih mengingat jelas memori yang terjadi saat itu. Anak kecil itu bukanlah adikku. Namun ia adalah motivatorku. Percayakah anak sekecil itu bisa menjadi seorang motivator untukku yang berumur sembilan belas tahun ini ? Semangat besarnya yang menjadi motivator hidupku hingga saat ini.


Foto itu mengingatkanku tentang kisah yang terjadi dua tahun lalu, kisah tentang anak kecil itu. Saat itu, ia berumur delapan tahun. Namanya Bintang. Ia cukup berbeda dengan anak-anak lain seumurannya. Mula aku mengenalnya, hidupnya tak seberuntung hidupku baik dari fisik dan materi. Ia terlahir dari keluarga yang sangat sederhana. Pertemuanku dengan Bintang cukup mengesankan. Bintang tinggal di daerah yang cukup jauh dari pusat kota. Ia tinggal di salah satu desa kecil di Indralaya KM 32 dari Palembang (ibu kota provinsi Sumatera Selatan). Aku sedang menjalani Strata 1 (S1) di kampus negeri yang terletak di kota itu. Saat sedang mengikuti kegiatan sosial kampus ke pedesaan, aku bertemu dengannya. Anak itu terlihat berbeda dengan anak yang lain. Ia tampak duduk tenang di tepi persawahan, tidak seperti teman-teman sebayanya yang asyik bermain bola di lapangan. Saat mendekatinya, aku terkejut. Ternyata ia seorang tunanetra. Ia duduk di atas tumpukan jerami sambil bermain pianika tua miliknya. Ia begitu piawai memainkannya. Lagu yang dimainkannya saat itu adalah Bunda karya Melly Goeslaw. Lagu ini semakin indah ketika ia memainkannya. Aku pun berusaha mengajaknya berbicara. Namun ia hanya tersenyum dan melanjutkan permainan musiknya. Tiba-tiba ada seorang ibu yang menghampiriku. Ternyata beliau adalah ibu Bintang.


Aku pun berkenalan dan berbincang-bincang dengan beliau. Sungguh ibu yang sangat ramah dan santun. Beliau menceritakan tentang keluarganya. Ayah Bintang telah meninggal akibat kecelakaan fisik saat bekerja di proyek bangunan tempat almarhum bekerja. Bintang hanya tinggal berdua dengan ibunya yang amat menyayanginya. Hanya ibunya lah harta berharga bagi Bintang di dunia ini. Bintang adalah anak yang sangat mencintai musik. Entah dari siapa ia mewarisi bakat musik yang besar dari dalam dirinya. Ayahnya hanya seorang buruh dan ibunya hanya seorang tukang cuci panggilan. Ia mendapatkan pianika tua itu dari teman ibunya yang bekerja di tempat pengumpulan barang bekas. Ia mendapatkannya secara cuma-cuma. Sejak saat itu, pianika tua itu adalah teman baiknya yang selalu menemaninya. Walaupun ia tunanetra yang tidak bisa melihat tumpukan not lagu, namun ia bisa memainkan lagu hanya dengan mendengar sekali lagu tersebut. Bintang pun tidak bersekolah seperti anak-anak lainnya. Kekurangan salah satu alat indranya yang menyebabkan ia tidak diterima di sekolah umum. Namun ibunya tak pantang menyerah. Ibunya lah yang mengajarinya membaca dan menulis dengan bantuan huruf Braille, sistem baca tulis yang digunakan oleh penyandang tunanetra. Buktinya ia bisa membaca dan menulis seperti anak-anak lain. Ia pun pandai berhitung. Ia pandai bermain sempoa. Jenius ! Itulah kata yang ada di otakku saat itu. Namun dengan kejeniusannya tersebut, cita-citanya hanya ingin menjadi seorang master pianis (ahli pemain piano). Ia begitu mengidolakan Addie MS. Ia sering mendengar nama dan kepiawaian Addie MS dalam bermain musik di beberapa stasiun TV Indonesia. Terkadang ia ingin seperti anak-anak normal lainnya yang bisa melihat. Namun ibunya selalu menyemangatinya hingga ia merasa bahwa ia sama seperti anak lainnya. Lagipula Bintang tidak pernah menangis. Ciri khas nya adalah selalu tersenyum lebar hingga gigi susu nya terlihat jelas. Anak laki-laki yang manis.


Rasa kagum ku pada Bintang begitu membesar karena semangat Bintang dan ketegaran Ibunya. Saat itu, aku ingin memberikan sesuatu kepada Bintang walau aku tahu mungkin ini tidak seberapa. Aku ingin mengajak Bintang bermain piano di rumah sahabatku, Sheila. Kebetulan ia memiliki piano yang memang jarang digunakan. Piano itu pemberian orang tua nya dari Paris. Aku pun berjanji dengan Bintang untuk pergi bersamanya ke rumah Sheila akhir minggu ini. Syukurnya aku mendapat izin dari ibu Bintang untuk mengajaknya pergi.


Hari Minggu tiba, cuaca hari itu sangat cerah. Cuaca sangat berpihak padaku di waktu itu. Dengan semangat pagi, aku menuju ke rumah Bintang untuk mengajaknya ke rumah Sheila. Begitu sampai, aku terkejut melihat Bintang berpakaian sangat rapi dan bersih. Sungguh berbeda saat pertama kali aku bertemu dengannya. Walaupun aku tahu ia tidak menggunakan pakaian baru, karena ada sobekkan kecil di kerah bajunya. Namun bagiku ini tidak masalah, ia tetap terlihat menggemaskan.


Dengan menggunakan bus khusus Indralaya-Palembang, aku pergi bersamanya. Setiba di rumah Sheila, aku memperkenalkan Bintang kepada Sheila dan keluarganya. Syukur ia disambut dengan hangat oleh keluarga Sheila. Saat ia duduk tepat di depan piano, kulihat tangannya ragu untuk menyentuh tuts piano. Ia hanya meraba bentuk piano itu, maklum saja ini pertama kalinya ia mengetahui -bagaimana piano- itu. Jelas piano berbeda dengan pianika. Piano berbunyi tanpa harus ditiup dulu seperti pianika. Butuh waktu beberapa menit untuk menenangkan hati dan pikirannya. Aku pun berkata “Mainkanlah Bintang !”. Namun ia tetap saja berdiam diri. Aku pun tampak pesimis karena tak bisa memaksakannya untuk bermain saat itu. Namun selang beberapa menit kemudian, ia menekan satu tuts – nada kedua “re”. Aku terbangun dari rasa pesimis ku. Akhirnya dengan percaya diri, ia mulai memainkan piano itu. Ia memainkan lagu Bunda – Melly Goeslaw lagi. Namun ini jauh lebih merdu dibanding saat aku mendengarkannya pertama kali. Jemari tangannya begitu lincah memainkan piano itu. Seakan-akan ia sering bermain piano. Ia tampak seperti master pianis cilik. Ia tersenyum lebar seakan menggambarkan bahwa ia sangat menyukai kejadian saat itu. Sungguh begitu bangga melihatnya. Seorang anak tunanetra yang pandai bermain piano.


Dengan semangatnya, ia pun berkata “Ada lagu lain yang ingin kumainkan ?”. Aku pun memintanya untuk memainkan lagu Andra and The Backbone – Sempurna versi piano. Ia pun memainkan lagu itu lebih sangat indah. Sungguh terhanyut diriku saat itu. Ayah Sheila pun meminta Bintang untuk memainkan beberapa lagu klasik karya Mozart. Namun Bintang belum pernah mendengar nama pemusik itu apalagi memainkan lagu-lagunya. Akhirnya beliau pun memperdengarkan beberapa lagu klasik karya Mozart kepada Bintang. Hanya sekali mendengar, Bintang mampu merespons lagu itu dengan cepat dan baik. Ayah Sheila pun takjub melihat keajaiban seperti itu. Beliau pun kagum terhadap kejeniusan musik anak delapan tahun ini. Setelah puas memainkan beberapa lagu, aku dan Bintang pun berpamit dan berterima kasih kepada Sheila dan keluarga. Bintang terlihat sangat senang. Semenjak hari itu, aku dan Bintang sering berkunjung ke rumah Sheila. Keluarga Sheila pun tidak keberatan akan kedatangan kami. Apalagi dengan “Aksi Bintang” yang menakjubkan.


Sebulan lamanya Bintang berlatih memainkan piano di rumah Sheila. Ia semakin mahir. Ia pun sering diperdengarkan beberapa jenis lagu, terutama lagu klasik. Saat itu, Ayah Sheila yang merupakan seorang pimpinan event organizer terbesar di Palembang menawarkan kepada Bintang untuk tampil di Konser Musik Klasik Anak Indonesia di Convention Center Hotel Aryaduta Palembang. Kebetulan Ayah Sheila adalah konseptor utama acara itu. Sungguh terkejut aku mendengarnya, begitu juga dengan Bintang yang senang bukan kepalang. Ia akan sepanggung dengan pianis idolanya, Addie MS yang menjadi bintang tamu di acara itu. Sejak saat itu, ia begitu berlatih keras untuk tampil maksimal pada acara itu. Aku pun memberitahu kabar menggembirakan ini kepada ibu Bintang. Tangis haru membasahi wajah beliau yang mulai mengkeriput. Ibunya pun dengan semangat membuatkan baju terbaik untuk Bintang dari tangannya sendiri untuk dipakai pada acara itu.



Hari yang dinanti telah tiba. Dari Indralaya kota kelahirannya, ia dengan pianika tua nya bersama ibunya berangkat menuju hotel. Aku pun ikut bersama mereka. Besok malam adalah malam impian Bintang. Sesampai di hotel, kami langsung diajak menuju gedung tempat acara itu diselenggarakan. Kami semua takjub akan panggung megah yang ada di depan mata walaupun di atas panggung itu masih digelar geladi bersih untuk acara besok malam. Menjelang satu hari sebelum acara dimulai, ia berkenalan dan berlatih bersama Addie MS. Aku masih ingat ekspresi wajahnya saat ia bertemu langsung dengan Addie MS.


Keesokkan malamnya, acara puncak pun dimulai. Banyak pemusik cilik dan dewasa yang tampak hadir di gedung megah itu, baik nasional maupun internasional. Sebentar lagi Bintang akan tampil berkolaborasi dengan Addie MS Orchestra. Bintang telah berpakaian rapi dengan jas putih buatan ibunya, Sungguh tampan ia mengenakannya. Ia sungguh terlihat seperti ‘Master Pianis Cilik’. Walaupun ia tampil hanya sebagai selingan, namun aku yakin bahwa Bintang adalah bintang malam itu. Saat yang ditunggu tiba, pembawa acara memanggil Bintang ke atas panggung dan mengenalkannya ke semua penonton yang hadir pada malam itu. Dengan dituntun oleh beberapa kru menuju piano nya, ia hanya melepas senyum. Addie MS Orchestra pun membuka lagu dengan rentetan nada yang begitu menghanyutkan penonton. Lalu disambung dengan kepiawaian jemari tangan mungil Bintang memainkan piano yang sangat lincah. Lagu Mozart – Eine Kleine Nactmusic saat itu terdengar sangat megah. Para penonton seakan tersihir dengan kedahsyaratan kolaborasi keduanya, antara Bintang dan Addie MS Orchestra. Tepukkan tangan yang meriah dari para penonton malam itu benar-benar menunjukkan bahwa Bintang memang terlihat seperti bintang pada malam itu. Bintang yang menyinari dunia dengan kedahsyatan lagu yang dimainkannya di atas piano. Impian Bintang terwujud pada malam itu untuk berkolaborasi dengan idolanya, Addie MS.


Ternyata pada saat itu, Bintang mendapat kejutan lagi. Sekolah musik klasik Internasional dari Paris akan memberikan beasiswa kepada Bintang untuk belajar di Sekolah Musik Internasional Paris selama enam tahun. Ternyata Ayah Sheila mengajukan permohonan beasiswa kepada Yayasan Sekolah Musik Internasional di Paris. Tangisan bahagia terjadi di suasana malam saat itu. Ibu Bintang menangis tersedu-sedu tanda bersyukur. Para penonton pun larut dalam suasana haru malam itu.


Malam itu Bintang memberiku hadiah terbaik seumur hidup yang tak pernah kudapatkan dengan materi, yaitu SEMANGAT. Semangat untuk belajar, berusaha, hidup dan selalu tetap tersenyum walau hidupnya tak sempurna. Selalu menghargai dan mensyukuri apa yang telah di anugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa tanpa harus menyesal atas apa yang telah diberi. Kisah hidup anak tunanetra berumur delapan tahun adalah guru terbaikku. Di depan foto itu, aku pun tersenyum kecil dan berkata “Bintang adalah salah satu keajaiban Tuhan !”

2 komentar:

andukot on August 21, 2010 at 8:00 AM said...

Bagus Dek.. semoga menang.. :)

"Janji di Sungai Musi" sepertinya judul yang menarik tuh untuk cerita fiksi romantis.. :)

Annisa Darmawahyuni on August 27, 2010 at 4:03 PM said...

iyaa kak ? seneng dehh cha :)
hehehe

wewww.
kok jd fiksio romantis ? hahaha :D
kk aja yg jd aktor, cha skenarionya aja :p

Post a Comment

Pengikut

Celoteh Mereka

Precious Award

Precious Award
 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez